
Secangkir kopi, tentu saja bagi saya, membawa kenikmatan tersendiri. Pada kepulan hawa panas kopi, semangat bisa muncul, asa bisa terkuak, harapan bisa mengemuka begitu saja. Secangkir kopi, sejauh ini selalu jadi sahabat terbaik saya.
Seseorang pernah mendapat julukan "Setiap harinya adalah secangkir kopi". Julukan itu mungkin cocok juga buat saya. Maka izinkan saya menyeruput secangkir kopi saya. Ah, shruuuuuup, sedap!. Secangkir kopi dan rintihan hujan diluar sana betapa kontras tapi saling melengkapi.
Begitulah. Sedang hujan disini. Hujan yang entah kenapa selalu turun menjelang pukul tiga sore. saat saya sedang memeriksa pekerjaan-pekerjaan saya. Mungkin Dia, Sang Maha Segala ,tau, bahwa supaya saya lebih semangat memeriksa pekerjaan saya, perlu ditemani rintik hujan. Maka Dia menurunkan hujan. Hujan, selalu lebih afdol bila ditemani secangkir kopi. Maka secangkir kopipun siap untuk saya minum.
Saya hirup lagi kopi saya ya, shruuuuup, maknyus. Selamat sore kawan. Sore ini basah (karena hujan), sekaligus hangat (karena secangkir kopi saya). Pukul empat nanti, saya bersiap-siap pulang, tentu saja bila tidak ada hal tiba-tiba dan mendesak yang harus saya kerjakan sore ini juga. Sebelum saya tutup, kalau berkenan, silahkan baca-baca kisah tentang secangkir kopi saya disini. Wasalam.
Seseorang pernah mendapat julukan "Setiap harinya adalah secangkir kopi". Julukan itu mungkin cocok juga buat saya. Maka izinkan saya menyeruput secangkir kopi saya. Ah, shruuuuuup, sedap!. Secangkir kopi dan rintihan hujan diluar sana betapa kontras tapi saling melengkapi.
Begitulah. Sedang hujan disini. Hujan yang entah kenapa selalu turun menjelang pukul tiga sore. saat saya sedang memeriksa pekerjaan-pekerjaan saya. Mungkin Dia, Sang Maha Segala ,tau, bahwa supaya saya lebih semangat memeriksa pekerjaan saya, perlu ditemani rintik hujan. Maka Dia menurunkan hujan. Hujan, selalu lebih afdol bila ditemani secangkir kopi. Maka secangkir kopipun siap untuk saya minum.
Saya hirup lagi kopi saya ya, shruuuuup, maknyus. Selamat sore kawan. Sore ini basah (karena hujan), sekaligus hangat (karena secangkir kopi saya). Pukul empat nanti, saya bersiap-siap pulang, tentu saja bila tidak ada hal tiba-tiba dan mendesak yang harus saya kerjakan sore ini juga. Sebelum saya tutup, kalau berkenan, silahkan baca-baca kisah tentang secangkir kopi saya disini. Wasalam.
Di sini, terang benderan dengan cahaya mataharinya yang garang memanggang. Sepertinya, akan membahang ketika harus meminum secangkir kopi. Tapi, membaca ini membuatku berseri semangat :)
BalasHapussecangkir kopi yang memberi kehangatan di kala hujan... uihh... nikmatnya...
BalasHapusYa, setuju dengan pesan di situ, bahwa kita tidak bisa secara bebas menghakimi, memvonis orang.
BalasHapusSaya menyeruput teh saya dulu..:)
emang enak ya kalo ngopi pas hujan, badan serasa segar...
BalasHapusWalau tidak pernah minum kopi, tapi setuju dengan pesannya. Bukan kita memang yg berhak menghakimi..
BalasHapusAku ga suka kopi mbak (eh..suka sih tp ga bisa minum), tapi aku bisa merasakan nikmatnya kopi panas vs hawa dingin
BalasHapusSekarang sedang hujan mbak di tempatku.., jadi kebayang nikmatnya meminum secangkir "wedhang" anget... (bukan kopi.. tapi teh).
BalasHapus@all, hiks, sedang hujan lagi disini. Jadi, emang enakakan ngupi lagi. hehe.
BalasHapushehe, bikin kepingin ngupi...sruput juga ah...
BalasHapusthanks udah berkunjung, skalian saya follow
mampir ngupi dikala hujan ,..
BalasHapusmaknyooosss banget.
disini biasanya hujan, tapi tidak sore ini. Biasanya kalo hujan nikmatnya minum coklat panas shruuu...p, aaah segar dan hangat.
BalasHapus@Zahra, ayo ngupi mbak. Terimakasih sudah follow ya
BalasHapus@Stiawan, hehe, pasti sambil ngupi juga
@Annie, coklat juga ok dan mantap mbak